Oleh: Muhammad Sulaiman, SS, M.Hum
Rukun Islam
yang lima kita telah tahu. Tiga yang pertama mesti dikerjakan oleh
setiap muslim. Sedangkan dua terakhir hanya wajib atas orang-orang Islam
yang mampu. Rukun Iman yang enam juga telah sama kita ketahui.
Seseorang telah disebut Islam kalau telah melaksanakan rukun-rukunnya
berdasar kemampuan diri. Minimal tiga rukun yang pertama. Dikatakan
mukmin apabila dia telah mempercayai rukun iman yang enam itu. Dulu
manakah, menjadi muslim atau mukmin?
Sementara kita katakan Iman dan Islam bisa dianggap masing-masing berdiri sendiri. Sebab memang di antara keduannya harus dapat diadakan pembedaan meskipun bukan pemisahan. Tuhan pun menyebut “beriman dan beramal saleh”. Amal saleh itulah Islam. Ibnu Taimiyah berpendapat, tiap-tiap orang beriman adalah Islam, tetapi orang Islam belum tentu beriman.
Atas dasar Islam dan Iman berbeda dan pada umunya dikatakan bahwa Islam merupakan bukti adanya Iman, maka terbaliklah pernyataan Ibnu Taimiyah itu. Sebab kalau Islam sebagai bukti adanya Iman maka Iman tentu lebih dulu dari Islam. Dengan demikian mukmin belum pasti muslim. Dan muslim tentulah mukmin. Adapun orang yang sesungguhnya munafik, meskipun ia mau bersyahadat, mengerjakan shalat dan puasa yang lantaran ini orang menyebutnya sebagai bukti adanya iman. Sebab amalnya tidak lahir karena kepercayaan hatinya melainkan hanya sebagai tipu muslihat belaka. Dengan adanya kasus ini maka benarlah separo pernyataan Ibnu Taimiyah, orang Islam belum tentu beriman.
Rukun Islam
yang lima kita telah tahu. Tiga yang pertama mesti dikerjakan oleh
setiap muslim. Sedangkan dua terakhir hanya wajib atas orang-orang Islam
yang mampu. Rukun Iman yang enam juga telah sama kita ketahui.
Seseorang telah disebut Islam kalau telah melaksanakan rukun-rukunnya
berdasar kemampuan diri. Minimal tiga rukun yang pertama. Dikatakan
mukmin apabila dia telah mempercayai rukun iman yang enam itu. Dulu
manakah, menjadi muslim atau mukmin?Sementara kita katakan Iman dan Islam bisa dianggap masing-masing berdiri sendiri. Sebab memang di antara keduannya harus dapat diadakan pembedaan meskipun bukan pemisahan. Tuhan pun menyebut “beriman dan beramal saleh”. Amal saleh itulah Islam. Ibnu Taimiyah berpendapat, tiap-tiap orang beriman adalah Islam, tetapi orang Islam belum tentu beriman.
Atas dasar Islam dan Iman berbeda dan pada umunya dikatakan bahwa Islam merupakan bukti adanya Iman, maka terbaliklah pernyataan Ibnu Taimiyah itu. Sebab kalau Islam sebagai bukti adanya Iman maka Iman tentu lebih dulu dari Islam. Dengan demikian mukmin belum pasti muslim. Dan muslim tentulah mukmin. Adapun orang yang sesungguhnya munafik, meskipun ia mau bersyahadat, mengerjakan shalat dan puasa yang lantaran ini orang menyebutnya sebagai bukti adanya iman. Sebab amalnya tidak lahir karena kepercayaan hatinya melainkan hanya sebagai tipu muslihat belaka. Dengan adanya kasus ini maka benarlah separo pernyataan Ibnu Taimiyah, orang Islam belum tentu beriman.





Iman dan Islam : Dulu Mana?